Rabu, 24 Maret 2010

Biografi Albert Einstein


Albert Einstein (14 Maret 1879–18 April 1955) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis".

Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan jenius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia.



Pada tahun 1999, Einstein dinamakan "Orang Abad Ini" oleh majalah Time. Kepopulerannya juga membuat nama "Einstein" digunakan secara luas dalam iklan dan barang dagangan lain, dan akhirnya "Albert Einstein" didaftarkan sebagai merk dagang. Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.

Richard The Lionheart



Salah satu tokoh yang sangat pantas untuk dibicarakan di setiap pembahasan perang salib adalah Richard The Lionheart! Beliau memerintah Inggris hanya dalam waktu yang singkat (10 tahun) 1189-1199.Lahir dengan nama asli Richard Plantagenet di Oxfordshire Inggris, 8 September 1157 ( Richard 19 tahun lebih muda dari Salladin yang lahir tahun 1138 ). Richard memiliki darah Inggris dari ayahnya dan perancis dari ibunya.

Richard merupakan anak ke 2 dari 8 bersaudara. Kakak sulungnya meninggal ketika masih bayi, sehingga Richard ditunjuk sebagai pewaris Aquitane - sebuah county/wilayah kecil di Perancis selatan. Henry adiknya jadi pewaris tahta Inggris. Richard hanya menumpang lahir d Inggris karena dia melewati masa kecil hingga dewasa di Aquitane - perancis. Bahkan bahasa Inggris jadi bahasa nomor 2-nya setelah bahasa Perancis yang jadi bahasa sehari-harinya ( bahkan banyak yg bilang Richard lebih fasih berbahasa Arab ketimbang Inggris.

Pada tahun 1189 Richard dilantik jadi raja Inggris di Westminster Abbey London. Di tahun yang sama Richard mengucapkan sumpahnya untuk melanjutkan perang salib setelah mendengar kabar kekalahan Hattin di thn 1187. Richard hanya pernah berada di Inggris sepanjang 10 tahun pemerintahannya hanya selama 11 bulan. Permaisurinya, Queen Berengaria of Navarre, malah tidak pernah ke Inggris sama sekali. Sayangnya pernikahan mereka berdua gak membuahkan anak (meskipun beberapa anak King Richard lahir di luar perkawinan). Richard sendiri bersedia menikahi Berengaria untuk mendapat dukungan ayahnya dalam campaignnya, meskipun sebetulnya udah bertunangan dgn Princess Alice of France. Oleh karena itu Richard juga dikenal sebagai " The Absent King.

Terus darimana sebutan The Lion Heart itu didapatkan oleh Raja Richard ? Begini kisahnya :
Pasca pertempuran Ascalon dimana Richard mengalahkan pasukan Sultan Saladin, dalam keadaan keletihan dan belum mendapat re-inforcement, pasukan Richard kembali diserang oleh sisa - sisa pasukan Saladin yang berhasil Re-group setelah sebelumnya kocar-kacir diserang pasukan Saladin. Dikatakan bahwa Saladin mengerahkan sekitar 7000 sampai 8000 kaveleri Arab untuk menyerang Richard dan pasukannya yang mesih letih sehabis bertempur.





Selasa, 23 Maret 2010

Adolf Hitler : Perang Dunia II dan Kejatuhannya

Pada September 1939, Hitler menyerang Polandia dengan serangan taktik blitzkrieg (serangan darat, udara secara kilat) mencapai kejayaan yang mengejutkan musuh dan jenderalnya sendiri. Serangan terhadap Polandia menyebabkan musuh-musuhnya Inggris dan Perancis menyatakan perang terhadap Jerman, dengan itu dimulailah Perang Dunia II.

Pada masa Perang Dunia II, pihak Inggris dipimpin oleh Sir Winston Churchill yang menggantikan Arthur Neville Chamberlain yang jatuh akibat skandal serbuan Nazi ke Polandia 1939, Perancis yang dipimpin oleh Jendral Gamelin yang saat itu ditunjuk sebagai komando tertinggi sekutu gagal menahan serangan kilat Jerman ke Belgia dan Perancis, Perancis akhirnya dipimpin oleh Jenderal Charles de Gaulle yang memimpin pasukan perlawanan Perancis pada masa Pemerintahan Vichy, serta bantuan Amerika Serikat yang dipimpin Jendral Eisenhower sebagai panglima mandala di Eropa meskipun sebelumnya Amerika Serikat enggan terlibat pada perang yang sebelumnya dianggap sebagai perang Eropa itu.

Setelah lama berperang dan setelah mengalami kekalahan di setiap medan pertempuran, Hitler menyadari bahwa kekalahan sudah tidak dapat dielakkan. Awal kekalahan Hitler adalah saat menggempur Kota Kursk Uni Soviet dengan Operasi Citadel, kekuatan Jerman terdiri dari 800.000 infanteri, 2.700 tank lapis baja, 2.000 pesawat tempur dan dipimpin oleh Jenderal Erich Von Manstein dan Jenderal Walther Models sedangkan kekuatan Uni Soviet terdiri dari 1.300.000 infanteri, 3.600 tank, dan 2.400 pesawat tempur. Rencana serangan ini telah diketahui secara detail oleh intelejen Uni Soviet yang berada di Switzerland.

Stalin pun langsung memerintahkan tentaranya untuk membangun pertahanan kuat di kawasan Kursk. Di pertempuran inilah banyak sekali tank - tank andalan Jerman dan Uni Soviet hancur, diantaranya Tank Tiger, Panther, Elefant (Jerman) dan Tank T-34, SU -152, dan KV -1. Jerman mengalami pukulan mematikan di Stalingrad serta Serangan pukulan sekutu di Normandia dan gagal dalam Ardennes Offensive, yaitu serangan balasan yang dilakukan tentara jerman atau Wehrmacht dan beberapa divisi panzer yang masih tersisa dipimpin Jenderal Mantauffel pada saat musim salju untuk merebut kembali Kota Antwerp di Belgia. Serangan ini berlangsung secara terseok - seok dan berakhir gagal karena kurangnya pasokan logistik dan bahan bakar untuk Panzer dari Jerman sehingga banyak panzer yang masih "Fresh from the Oven" seperti tank Tiger dan Panther teronggok di pinggir jalan karena kehabisan solar.


Berkas:Hitlermusso.jpg


Hitler yang menyadari kejatuhannya sudah dekat kemudian mengawini wanita simpanannya Eva Braun, kemudian bunuh diri bersama-sama pada 30 April 1945. Jasadnya dibakar agar tidak jatuh ke tangan musuh,dan setelah kematian hitler beberapa hari kemudian akhirnya jerman menyerah terhadap pihak rusia dan sekutu.

Setelah Perang Dunia 2 berakhir, Jerman dibagi menjadi 2 wilayah, yaitu Jerman Barat yang berada pada kekuasaan sekutu dan Jerman Timur yang berada pada kekuasan Uni Soviet. Hal ini terjadi akibat Perang Dingin. Tetapi pada akhir abad ke-20 kedua wilayah Jerman yang terpisah ini akhirnya bersatu kembali, setelah runtuhnya dan dihancurkannya Tembok Berlin.



Rabu, 27 Januari 2010

William Wallace:Battle of Falkirk


A year later, Wallace lost the Battle of Falkirk. On 1 April 1298, the English invaded Scotland at Roxburgh. They plundered Lothian and regained some castles, but had failed to bring Wallace to combat. The Scots adopted a scorched earth policy in their own country, and English quartermasters' failure to prepare for the expedition left morale and food low, but Edward's search for Wallace would not end at Falkirk.

Wallace arranged his spearmen in four "schiltrons" — circular, hedgehog formations surrounded by a defensive wall of wooden stakes. The English gained the upper hand, however, attacking first with cavalry, and breaking up the Scottish archers. Under the command of the Scottish nobles, the Scottish knights withdrew, and Edward's men began to attack the schiltrons. It remains unclear whether the infantry firing bolts, arrows and stones at the spearmen proved the deciding factor, although it is very likely that it was the arrows of Edward's bowmen.

Either way, gaps in the schiltrons soon appeared, and the English exploited these to crush the remaining resistance. The Scots lost many men, including John de Graham. Wallace escaped, though his military reputation suffered badly.

By September 1298, Wallace had decided to resign as Guardian of Scotland in favour of Robert Bruce, Earl of Carrick (the future king) and John Comyn of Badenoch, King John Balliol's brother-in-law. Bruce became reconciled with King Edward in 1302, while Wallace spurned such moves towards peace.

According to Harry, Wallace left with William Crawford in late 1298 on a mission to the court of King Philip IV of France to plead the case for assistance in the Scottish struggle for independence. Backing this claim is a surviving letter from the French king dated 7th of November 1300 to his envoys in Rome demanding that they should help Sir William.[12] Whether or not Wallace made it to Rome is unsure. Harry also states that on their trip down the English coast, the small convoy ran into the infamous pirate Thomas Longoville, also known as the Red Reiver for his red sails and ruthless raids. Hiding in the hold of the ship while Crawford and a small contingent of men sailed, Wallace surprised the pirates as they boarded the ship. Longoville was captured and taken to Paris where the Scots convinced Philip to grant amnesty so that Longoville could prey on English ships. This last story is one of many recorded by Blind Harry for which there is no evidence. Harry also invented a major action against Edward I at Biggar, which, though often cited, never actually occurred.

In 1303, Squire Guthrie was sent to France to ask Wallace and his men to return to Scotland, which they did that same year. They slipped in under the cover of darkness to recover on the farm of William Crawford, near Elcho Wood. Having heard rumours of Wallace's appearance in the area, the English moved in on the farm. A chase ensued and the band of men slipped away after being surrounded in Elcho Wood. Here, Wallace took the life of one of his men that he suspected of disloyalty, in order to divert the English from the trail.

Attack on Pearl Harbor


The attack on Pearl Harbor (or Hawaii Operation, Operation Z, as it was called by the Japanese Imperial General Headquarters, and Battle of Pearl Harbor by some Americans)[6] was an unannounced military strike conducted by the Japanese navy against the United States naval base at Pearl Harbor, Hawaii on the morning of December 7, 1941. It resulted in the United States' entry into World War II. The attack was intended as a preventive action in order to keep the U.S. Pacific Fleet from influencing the war that the Empire of Japan was planning in Southeast Asia, against Britain and the Netherlands, as well as the U.S. in the Philippines. The attack consisted of two aerial attack waves totaling 353[7] aircraft, launched from six Japanese aircraft carriers.

The attack sank four U.S. Navy battleships (two of which were raised and returned to service later in the war) and damaged four more. The Japanese also sank or damaged three cruisers, three destroyers, and one minelayer, destroyed 188 aircraft, and caused personnel losses of 2,402 killed[8] and 1,282 wounded. The power station, shipyard, maintenance, and fuel and torpedo storage facilities, as well as the submarine piers and headquarters building (also home of the intelligence section) were not hit. Japanese losses were minimal, with 29 aircraft and five midget submarines lost, and 65 servicemen killed or wounded. One Japanese sailor was captured.

The attack was a major engagement of World War II. It took place before a formal declaration of war by Japan and before the last part of a 14-part message had been delivered to the State Department in Washington, D.C. The Japanese Embassy in Washington had been instructed to deliver it immediately prior to the scheduled time of the attack in Hawaii. The attack, and especially its surprise nature, were both factors which swayed U.S. public opinion from isolationism to support for direct participation in the war. Germany's prompt declaration of war, unforced by any treaty commitment to Japan, quickly brought the United States into the European Theater as well. Despite numerous historical precedents of unannounced military action, the lack of any formal declaration prior to the attack led President Franklin D. Roosevelt to proclaim "December 7th, 1941 — a date which will live in infamy".